Phil Foden & Gareth Southgate

Jadi Target Cercaan, Phil Foden Merasa Kasihan dengan Gareth Southgate

Bintang tim nasional Inggris Phil Foden merasa kasihan dengan pelatihnya, Gareth Southgate, yang menjadi target kritikan di Piala Eropa 2024 ini.

Mansionsportsbox

Inggris tampil mengecewakan sepanjang turnamen yang berlangsung di Jerman. Meski berhasil lolos ke fase grup sebagai juara grup, The Three Lions hanya mampu meraih satu kemenangan melawan Serbia dan dua kali imbang melawan Denmark dan Slovenia.

Lalu pada babak 16 besar, Inggris nyaris tersingkir sebelum gol salto Jude Bellingham detik-detik terakhir berhasil menyamakan kedudukan. Lalu gol Harry Kane pada babak pertambahan waktu meloloskan Inggris ke babak perempat final.

Baca juga:

Secara keseluruhan, Inggris tampil melempem. Sulit menemukan ruang untuk melancarkan serangan dari belakang. Para pemain dan penonton di stadion pun sempat terlihat frustrasi dengan lambatnya tempo permainan.

Penampilan dalam empat pertandingan tersebut menuai banyak kritik dan cercaan untuk Inggris, terutama untuk Southgate karena banyak yang mempertanyakan soal taktik dan pilihan pemainnya.

Pada laga selanjutnya, Inggris akan bertemu Swiss pada babak perempat final yang akan berlangsung pada Sabtu (6/7) malam WIB.

Foden memasang badan untuk sang pelatih, mengatakan para pemain juga mengemban tanggung jawab atas performa buruk tersebut.

“Saya merasa kasihan pada Gareth,” kata Foden.

“Dalam latihan dia meminta kami untuk menekan dan tampil tinggi di lapangan. Terkadang hal itu harus datang dari para pemain. Kami harus menjadi pemimpin dan saya merasa dalam pertandingan kami bisa lebih berkumpul dan mencari solusi.”

“Kami telah membicarakannya lebih lanjut dan jika hal ini terjadi lagi, kami dapat menemukan solusi dan menyesuaikan tekanan kami.”

“Para pemain harus menanggung sebagian kesalahannya. Harus ada beberapa pemimpin untuk berkumpul. Tidak banyak yang bisa dilakukan manajer. Dia menempatkan Anda dalam suatu sistem dan memberi tahu Anda cara menekan.”

“Anda tidak pernah memutuskan kapan seseorang untuk turun juga. Para pemain harus beradaptasi dengan apa yang dilakukan tim lain untuk menjadi lebih baik. Mudah-mudahan Anda akan melihat sisi berbeda dari kami dalam menekan dengan bijaksana.”

Laga melawan Swiss kembali menjadi tantangan bagi skuad Southgate untuk membuktikan mereka sebagai tim unggulan di turnamen kali ini.

Baca juga:

Foden yang belum mencetak gol pada turnamen kali ini, juga akan membuktikan dirinya sebagai pemain terbaik di Premier League musim lalu berkat performa gemilang bersama Manchester City.

“Saya bukan pemain terbaik di Premier League yang datang ke sini dan tidak menunjukkannya,” katanya.

“(Tetapi) di setiap pertandingan saya membuat sedikit kemajuan dan, mudah-mudahan, saya bisa tampil bagus untuk Inggris. Itu selalu menjadi tujuan saya untuk menunjukkannya kepada tim nasional.”

“Laga pertama sangat sepi, dari segi jalannya pertandingan, saya sendiri tidak punya banyak kemajuan. Pertandingan berikutnya setelah itu saya berkembang. Saya nyaris mencetak gol beberapa kali dan saya berada dalam posisi offside (ketika mencetak gol) di pertandingan terakhir. Melawan Denmark, tendangan saya membentur tiang.”

“Penampilan saya telah meningkat pesat dan jika tembakannya masuk, tidak ada yang mengatakan apa pun.”

Salah satu yang menjadi permasalahan di skuad Inggris adalah anggapan bahwa Foden dan Bellingham tidak bisa bermain bersama dalam satu tim, karena keduanya menempati posisi yang sama.

“Saya tidak setuju dengan itu, saya merasa kami bekerja sama dengan baik,” kata Foden soal bekerja sama dengan Bellingham.

“Kadang-kadang memang begitulah jalannya pertandingan dan cara kerja sepak bola, [tetapi] saya merasa di pertandingan terakhir kami berhasil mengembangkannya dengan sangat baik, dalam hal menjaga bola.”

“Kami memberikan tekanan pada akhir pertandingan dan mudah-mudahan hal ini bisa berjalan baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *